“Huaaah…” rasa ngantukku kalah dengan semangatnya hari ini.
Namaku Reina. Hari ini adalah hari pertamaku masuk ke dunia SMA. Rasanya
benar-benar nggak sabar. Ingin sekali merasakan SMA tuh seperti apa
sih. Dan hari ini, aku siap untuk menjalani hari-hari baruku.
Aku mematut diri di depan cermin di kamarku, berharap tidak akan ada
kesalahan yang membuatku terhukum hari ini. Untung saja sekolah baruku
tidak mensyaratkan hal aneh untuk kupakai saat MOS. Hanya kemeja putih,
rok hitam pendek, kaos kaki sebetis dan sepatu kets.
“Kkrrriiinggg…” bel sekolahku berbunyi. Para anak baru berpakaian
putih-hitam pun bergegas menuju lapangan untuk upacara. Dalam waktu
sekejap, lapangan sudah dipenuhi lautan anak baru berpakaian
putih-hitam.
Saat aku menuruni tangga bergegas turun ke lapangan, aku menabrak
seniorku. Kami bertatap sejenak lalu aku langsung menunduk malu.
“Maaf kak, saya salah. Saya buru-buru, jadi nggak ngeliat jalan.” kataku sambil menunduk.
“Haha iya gak papa kok. Saya juga salah gak menghindari kamu. Langsung ke lapangan, gih.” katanya.
Aku tertegun melihat wajahnya. Saat tersadar aku langsung menjawab, “Iya, kak.” kataku sambil menuju ke lapangan.
Selama upacara aku tidak konsen mendengarkan amanat pembina karena
terbayang seniorku tadi. Aku berharap sekali bisa bertemu dia lagi. Dan
tak terasa juga akhirnya upacara selesai. Semua anak-anak MOS segera
memasuki ruang kelas yang sudah dibagi oleh anggota OSIS sekolahku dan 1
ruangan kelas itu akan menjadi 1 kelompok selama MOS. Aku mendapat
kelas X-E dan langsung mendapat teman baru. Namanya Nisa. Dan aku
berharap kita bisa menjadi teman baik.
Setiap kelas mendapat 1 mentor untuk membimbing kami selama mengikuti
MOS 3 hari. Aku dan Nisa mengintip ke 2 ruangan sebelah kanan kiri
kami. “Semuanya udah dimasukin mentor, kenapa ruangan gue belum ya?”
pikirku.
“Nis, mentor kelas kita kok belum ada ya?” tanyaku kepada Nisa.
“Kayaknya telat deh, Rei. Aduh bisa ketinggalan informasi deh kita.”
Tidak lama kemudian, terlihat sesosok laki-laki berjalan ke arah
kelasku. “Itu kan… Demi apa… Jangan bilang dia mentor gue..” gumamku
melihat lelaki yang berjalan ke arah kelasku.
“Drrkk..” suara pintu terbuka. Dan aku hanya bisa tersenyum memandang wajahnya.
“Kenapa, Rei?” Nisa bertanya heran sambil mengernyitkan dahi.
“Hmmm. Gak papa, Nis hehe gak papa.” kataku sambil memalingkan muka, malu karena terlihat senyum-senyum sendiri.
“Oke, guys. Gue Rian, gue senior kalian yang ditugasin buat jadi
mentor di kelompok ini. Gue 11 IPS A dan kalian bisa manggil gue ‘Kak
Rian’. Terserah kalian mau manggil apa, tapi tetep sopan ya. Oh iya,
maaf ya telat, soalnya ada barang yang ketinggalan di rumah jadi
terpaksa pulang dulu.” jelasnya panjang lebar.
“Iya, Kaaaa Riaaan.” kata anak-anak perempuan kelasku serempak.
“Genit.” gerutuku. Dan setelah beberapa saat menangkap semua apa yang
dia bicarakan, aku baru mendapat kesimpulan kalau ternyata dia adalah
mentor kelompokku.
Rian. Dia adalah mentor kelompokku. Tampan, aktif, easy-going, asik,
gak sombong, ya… baik. Dia salah satu anggota basket di sekolahku.
Posturnya tinggi atletis. Benar-benar idaman kaum hawa di sini, deh.
Pertama kali aku bertemu dengannya saat hendak menuju lapangan untuk
upacara. Aku tidak sengaja menabraknya dan… Yah, seperti itulah.
Saat Rian sedang membagikan form di deretan mejaku, mataku bertemu
pandang dengannya sejenak. Lalu dia menyapa, “Eh, kamu yang nabrak saya
tadi pagi kan? Haha.”
Malu. Aku hanya bisa nunduk dengan muka merah padam sambil berkata, “Iii… iya, kak. Maaf kak saya bener-bener gak sengaja.”
“Hahaha kamu lucu. Gak papa kok, selow aja lagi.”
Lucu? Gak tau harus berekspresi gimana… Malu karena dia bicara dengan
suara yang mungkin agak sedikit keras, dan malu karena dia memujiku.
Oke, mungkin bukan malu. Senang? Hmmm…
Dia tersenyum melihat ekspresiku. Ya, tersenyum. Entah ini cuma
perasaanku saja, atau memang benar pandangan dia berbeda kepadaku.
“Dag…dig…dug…” aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku. Apa ya?
Tidak terasa 3 hari MOS sudah kulewati dengan lancar. Seiring waktu,
Rian bisa berbaur dengan kelasku. Terlebih, kami berdua bisa akrab.
Entah gimana caranya. Tapi dia mulai mengirimkan SMS untukku. Yang
tadinya hanya sekedar jarkoman mentor ke menti, sampai ngobrol tentang
banyak hal. Dia sudah mulai sering menanyakan aku sedang apa,
mengingatkan untuk shalat, mengingatkan untuk makan, dan mengingatkan
hal-hal kecil lainnya. Dia memang laki-laki yang baik dan perhatian. Apa
aku suka padanya? Sejak kapan?
“Kkkrrkkk…” tiba-tiba Bunda membuka pintu kamarku dan membuyarkan lamunanku. “Reina..” panggilnya.
“Iya, Bun?”
“Lagi apa, hayoo? Kayaknya kaget gitu Bunda masuk.”
“Hehe, gak papa Bun, ada apa?”
“Enggak, lagi iseng aja. Makanya Bunda ke sini. Sekalian mau denger cerita kamu, ah.”
“Cerita apa, Buuun?”
“Cerita kesan awal kamu masuk SMA dong, Sayang..”
“Hmmm, gak ada yang spesial, Bun. Biasa-biasa aja. Em… tapi Bun, Reina
lagi deket sama senior Reina. Gak tau sih Bun, ini deket sebagai apa,
tapi dia perhatian banget sama Reina.”
“Anak Bunda sudah besar ya ternyata.” ledek Bunda kepadaku. Malu, sih.
Tapi mau gimana lagi. Lalu Bunda melanjutkan, “Mungkin itu tanda rasa
sayang senior Reina ke Reina. Reina kapan kenal senior Reina itu?”
“Dia mentor Reina waktu MOS itu, Bun.”
Dan cerita pun berlanjut hingga larut. Memang tenang rasanya kalau sudah
cerita sama Bunda. Rasanya setiap masalah pasti akan selesai karena
saran Bunda.
Kami semakin dekat, dekat sekali. Rasa sayang pun muncul dengan
sendirinya seiring waktu yang sudah kita lewati bersama. Dia mengantarku
pulang setiap hari, dan kadang dia main di rumahku. Tapi status kami
masih belum jelas. Aku juga tidak tahu gimana perasaan dia yang
sebenarnya kepadaku. Sampai suatu ketika dia bilang sayang kepadaku,
lalu aku bertanya, “Sayang sebagai apa, Yan? Sebagai adik kecil yang
ngangenin ya? Hahaha.” tanyaku yang tentu saja dengan nada bercanda.
“Iya, Rei. Kamu udah aku anggep kayak adik kecilku sendiri yang harus aku jagain terus.” katanya sambil mengacak-acak rambutku.
‘Adik’ ya, ‘adik’. Udah jelas sekarang semuanya. Dia hanya menganggapku
sebagai adik kecilnya yang harus dia lindungi. Nggak lebih.
Mulai saat itu, kami menjauh. Entah dia yang mulai menjauh duluan,
atau aku yang mulai menjauh duluan. Pokoknya kami menjadi jauh. Awalnya
aku masih menghubunginya, sesekali menanyakan kabar sekedar basa-basi
dan mencoba mencairkan juga membalikkan suasana seperti dulu. Tapi gak
bisa. Kita sudah benar-benar jauh. Dan aku katakan padanya kalau aku
sedih dengan keadaan seperti ini. Tapi nggak ada respon dari dia.
Sampai akhirnya aku dekat dengan seorang teman laki-laki. Namanya
Rendy. Dia teman sekelasku. Dia juga anggota basket di sekolahku, sama
seperti Rian. Dia baik, perhatian, dan lama-lama dia juga menunjukkan
rasanya padaku. Walaupun dia tidak terus terang. Tapi rasanya aneh kalau
gak ada rasa apa-apa. Dia terus menunjukkan perhatiannya padaku. Ya,
realistis sih perempuan ga akan bisa nolak kalau dikasih perhatian
terus-menerus, kan?
“Rei, gue anter pulang ya? Sekalian ada yang mau gue omongin sama
lo.” hari ini tiba-tiba saja Rendy ingin mengantarku pulang dan ingin
mengatakan sesuatu kepadaku.
“Oh iya, Ren. Mau ngomong apa emang?” tanyaku penasaran.
“Nanti aja, Rei. Gue tunggu di parkiran, ya?”
“Oke.” jawabku singkat, mengiyakan. Aku jadi penasaran sendiri apa yang mau dia katakan.
“Gue sayang sama lo, Rei.” katanya tiba-tiba sambil menggenggam tanganku.
“Apa?” jawabku kaget. Sangat kaget. Karena tidak menyangka dia akan mengatakan hal ini secepat ini.
“Iya, gue sayang sama lo, Rei. Gue gak tau gimana cara mengungkapkan
yang baik. Gue cuma mau lo tau gimana sayangnya gue ke elo. Gue berharap
lo bisa kasih gue kesempatan buat buktiin seberapa sayangnya gue ke
elo.” jelasnya.
“Ren.. Kenapa bisa?”
“Gue gak tau mulai kapan gue ngerasain ini, Rei. Tapi yang jelas, sejak
pertama kali kita deket, gue ngerasa gue harus ngejagain lo. Reina
Azzahra, mau kan jadi pacar gue?”
Speechless. Aku benar-benar gatau apa yang harus aku lakuin. Di sisi
lain, aku masih ada perasan sama Rian walau hanya sedikit. Tapi di sisi
yang lainnya, aku juga merasa aman dan nyaman di dekat Rendy. Aku
berpikir dan memantapkan hatiku. Dan akhirnya…
“Ya, Ren. Gue mau.”
“Apa, Rei?” tanyanya tidak percaya.
“Gue mau jadi pacar lo. Kurang jelas, nih?”
Dan Rendy langsung memelukku sejenak tanda kegembiraan, lalu langsung
melepaskannya. “Sorry Rei, gue seneng banget. Gue gak tau harus
ekspresiin lewat apa. Janji, gue akan berusaha buat gak nyakitin lo.”
“Janjinya gue pegang, ya?” kataku menggodanya.
“Gue sayang lo, Rei.” katanya sebelum bergegas pulang. Dan aku hanya
bisa mengangkat jempolku menandakan aku menerima pernyataannya.
Tak terasa sudah 1 tahun aku menjalani hubungan dengan Rendy. Dia
laki-laki yang luar biasa. Dia bisa mengerti setiap keadaan yang aku
alami. Dia laki-laki yang memiliki pengertian yang juara terhadapku. Dia
juga laki-laki yang tau dan bisa menerima sifatku yang paling jelek.
Dia pernah bilang, “Kalo aku gak sayang sama kekurangan kamu, aku bakal
banyak ngatur kamu, Rei. Aku suka diri kamu apa adanya.” Dan itu yang
selalu aku ingat. Dia adalah teman laki-laki paling dewasa yang pernah
aku temui.
Tapi pada suatu hari, Rian datang kembali ke kehidupanku. Kami tidak
sengaja bertemu di kantin saat aku menunggu untuk dijemput, karena
kebetulan tidak pulang bersama Rendy. Dia menyapa dan menanyakan
kabarku, lalu duduk di sebelahku. Entah apa maksudnya. Aku hanya
berpikir, “Ah.. mungkin cuma mau basa-basi.” pikirku sekenanya. Aku
meresponnya. Merespon obrolan basa basi itu dengan rasa sedikit senang,
karena dalam hatiku yang paling kecil, aku merindukannya. Merindukan
obrolan-obrolan kecil seperti ini. Merindukan sosok ‘kakak’ dalam
dirinya terhadapku. Dan seketika aku kembali mengingat masa-masa dulu.
Masa-masa dimana kami dekat sekali.
“Hai, Rei. Belum pulang?” sapanya.
“Belum, Yan. Belum dijemput.” balasku sambil tersenyum.
“Gak pulang bareng Rendy?”
Dan kami terus membicarakan hal basa-basi sampai akhirnya dia berkata, “Aku kangen kamu, Rei.”
Dug… dug.. tiba-tiba jantungku terasa berdetak lebih cepat. Dan respon
yang bisa kuutarakan hanyalah, “Haha, becanda ya. Tapi emang sih kita
udah lama ga ketemu. Aku juga kangen sama kamu.”
“Coba kamu dengerin lagu ini..” katanya sambil memberikan headsetnya padaku.
“Lagu apa, Yan?”
“If You’re Not The One.”
“Loh? Kamu nyuruh aku dengerin ini? Kenapa?”
“Iya Rei. Aku Cuma mau jelasin sesuatu lewat lagu ini.” seketika dia
menggenggam tanganku. “Rei, aku tau aku sama sekali gak berhak buat
begini ke kamu sekarang karena kamu udah milik orang lain. Aku juga gak
punya maksud apa-apa selain ingin kamu tau yang sebenarnya soal aku,
soal kita.”
“Soal kita?” tanyaku tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti lalu aku langsung melepas genggamannya.
“Soal kita dulu. Ada sesuatu yang belum kamu tau. Aku tau pasti banyak
pertanyaan di otak kamu soal kedekatan kita dulu, dan soal kenapa kita
menjadi jauh kan?”
Lalu ekspresiku langsung berubah. “Iya, Yan.” jawabku singkat dengan rasa penasaran.
“Aku tau aku terlambat buat bilang ini sekarang. Tapi mungkin ini udah
gak berarti lagi buat kamu makanya aku coba jelasin semuanya sekarang.
Dulu, waktu kita deket, aku beneran suka sama kamu, Rei. Kita deket dan
lama-lama aku jadi sayang sama kamu. Tapi aku gak yakin kamu ngerasain
hal yang sama ke aku. Aku sadar kamu nunjukin perhatian lebih ke aku,
tapi dulu aku pikir kamu cuma nganggep aku sebagai ‘kakak’ kamu.”
“Aku nyoba buat menghindar dari kamu, tapi gak bisa, Rei. Aku terlalu
sayang sama kamu. Saat kamu nanya aku sayang kamu sebagai apa, aku gak
ngerti harus jawab apa. Dan saat kamu bilang ‘sebagai adik ya’, aku cuma
bisa mengiyakan. Karena kalau aku bilang enggak, berarti aku membohongi
kamu dan diriku sendiri. Sedangkan aku belum ada keberanian untuk
ngomong sejujurnya ke kamu, Rei.” jelasnya panjang lebar.
Aku hanya bisa menatapnya dan menunduk sesekali. Aku kaget dia langsung
bicara seperti itu. Jauh dari yang kuduga. Lalu tiba-tiba dadaku terasa
sesak. Entah apa yang aku rasakan.
“Dan untuk yang terakhir kali aku nyoba buat menghindari kamu setelah
percakapan itu, karena aku ngerasa cupu banget gak bisa nyatain yang
sebenernya. Tapi kamu terus nyoba buat hubungin aku, masih tetap
ngingetin aku hal-hal kecil. Sampai kamu bilang kamu sedih dengan
keadaan kita saat itu, disitu aku bisa ngerasain perasaan kamu, Rei. Gak
tau darimana asalnya, pokoknya aku bisa ngerasain kamu sayang sama
aku.”
Aku masih terdiam kaget mendengar pernyataannya. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Aku sengaja tetap menjauh dari kamu karena aku lagi ngerencanain kapan
aku ngomong terus terang sama kamu soal perasaanku, supaya waktu ngomong
perasaanku ke kamu jadi semacam surprise. Saat aku udah memantapkan
kapan aku akan ngomong sama kamu, temenku ngasih kabar kalau kamu udah
jadian sama Rendy. Kaget Rei. Sama sekali gak ada di bayangan aku kalau
kamu bakal jadian sama dia. Dan yah, ternyata hari itu emang ada
surprise, bukan dari aku ke kamu, tapi sebaliknya.” lanjutnya.
Aku menangis. Ya, aku menangis di depan dia. Air mata yang tak dapat ku
bendung, jatuh membasahi pipiku. Aku menangis mendengar semua
pernyataannya. “Kenapa harus menangis? Apa aku menyesali itu? Apa yang
aku sesalkan? Tidak peka terhadap perasaannya, atau aku menyesal telah
jadian dengan orang lain? Apa maksud dia menjelaskan ini semua?”
beribu-ribu pertanyaan menghampiri otakku. Dan tidak ada satupun dapat
menenangkan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan.
“Rei,” diraihnya pipiku oleh kedua tangannya dan menghapus air mataku. “Kamu kenapa?”
Aku menepis tangannya lalu berdiri dari posisi dudukku, “Kenapa baru
bilang, Yan? Kamu anggep apa perasaanku? Kamu pikir perasaanku udah
ilang gitu aja ke kamu? Enggak, Yan, enggak! Dari dulu aku mikir kamu
yang udah jahat sama aku. Kamu yang gak peka, kamu gak respon apa-apa.
Dan kamu ngebiarin aku mikir kayak gitu? Aku punya hati, Yan, aku punya
perasaan!”
Rian pun terbangun dari duduknya dan menjatuhkanku ke dalam pelukannya.
Mencoba menenangkanku dari tangisanku. Aku mencoba melepaskan tapi tidak
bisa. Tenaganya jauh lebih besar dariku. Akhirnya aku hanya bisa pasrah
dalam peluknya. Lalu dia berkata, “Maafin aku, Rei. Semuanya salahku
dari awal. Harusnya aku gak usah sok-sok menjauh dari kamu. Dan harusnya
aku gak lakuin ini sekarang dan buat kamu nangis. Sakit liat kamu
begini, Rei.”
“Sakit, Yan. Sakit menghadapi kenyataan kamu dulu. Sakit menghadapi
kenyataan kamu sekarang. Sakit menghadapi kamu. Maafin aku, Yan.”
jawabku dalam pelukannya.
Rian melepaskanku dalam peluknya lalu mengajakku pulang bersamanya. Tapi
aku menolak. Aku butuh waktu untuk menerima semuanya. Aku langsung
pergi meninggalkan Rian. Entah sudah dijemput atau belum, yang penting
aku jauh dari dia.
Sesampainya aku di rumah, aku benar-benar bingung. Rasanya sakit
sekali dihadapkan dengan kenyataan seperti ini. Aku tidak tahu harus
bagaimana. Aku milik orang lain sekarang. Tapi disisi lain aku tidak
bisa menyangkal kalau aku masih sayang padanya. Hal ini terus mengganggu
pikiranku. Aku nggak tahu harus bersikap gimana ke Rian dan Rendy.
Rasanya benar-benar butuh waktu sendiri.
Aku memikirkan Rendy. Gimana kalau dia tahu soal ini? Aku sudah
benar-benar jahat padanya. Aku tidak membalas perasaannya sebesar rasa
sayangnya padaku. Aku marah. Tapi tidak tahu harus marah pada siapa.
Rendy nggak seharusnya dapat balasan seperti ini dariku.
“Rei?” chat Rendy membuyarkan lamunanku.
“Kenapa, Ren.” jawabku datar, tanpa ekspresi.
“Kamu kenapa? Chatnya beda.” tanyanya heran karena nada chatku tidak seperti biasanya.
“Gak papa.” jawabku singkat.
“Serius, Rei. Kamu berubah. Aku khawatir sama kamu.”
“Aku mau sendiri, Ren.”
“Kenapa?”
“Gak papa.”
“Cerita, Rei, kamu kenapa. Biar aku bisa ngerti.”
“Dibilang aku butuh waktu sendiri. Aku pasti cerita tapi gak sekarang.”
“Ya udah, kamu maunya apa?”
Saat membaca isi chat itu, aku tidak memikirkan hal lain. Perasaanku
campur aduk. Rasa bersalah, sedih, kecewa, bimbang, penyesalan, marah
tapi tidak tahu harus marah pada siapa.
“Aku mau putus.” jawabku setelah beberapa saat. Singkat dan cukup jelas.
Lalu setalah beberapa saat, tiba-tiba dia sudah berada di depan
rumahku. Menemuiku dan menanyakan semua hal yang belum dia mengerti. Dan
aku bilang padanya, “Aku bakal cerita kalau aku udah tenang. Kamu sabar
aja. Tapi buat sekarang aku bener-bener mau pisah dari kamu.”
“Aku buat salah apa, Rei? Aku sayang banget sama kamu.”
“Aku cuma butuh waktu buat sendiri, Ren. Makasih atas semuanya. Makasih
udah mau ngerti keadaanku.” dan aku langsung membalikan badan, tapi
dihalangi olehnya.
“Izinin aku meluk kamu buat yang terakhir kalinya, Rei.”
Aku mengiyakan. Dia memelukku untuk terakhir kalinya. Lumayan lama, aku
segera melepaskannya dan masuk ke dalam kamarku. Aku menangis sejadinya.
Kesal, menyesali, kenapa kejadian seperti ini harus terjadi di hidupku.
Aku benar-benar merasa sendiri sekarang.
Hari ini hari senin. Waktunya sekolah dan itu menandakan aku harus
bertemu dengan Rian dan Rendy. Ya Tuhan.. Aku benar-benar tidak ingin
bertemu mereka. Semoga saja aku diberi kekuatan kalau aku sampai bertemu
mereka.
Saat aku berjalan di lorong sekolahku, aku berpapasan dengan Rian.
Kami bertemu pandang sejenak, lalu aku langsung memalingkan wajah. Sakit
sekali melihatnya. Dan aku tidak ingin dia melihatku menangis lagi
karenanya.
Lalu saat aku ingin menaiki tangga menuju kelasku. Aku berpapasan
dengan Rendy. Dan seketika rasa bersalah muncul di benakku. Aku langsung
lari menghindarinya.
Aku masuk ruang kelas dengan tidak bersemangat. Aku masih tidak percaya
mengenai kehidupanku. Nisa yang melihat keadaanku langsung menghampiriku
dan menanyakan kabarku.
“Rei? Ya ampun, lo kenapa?” tanya nya kaget.
“Gak papa, Nis.” jawabku untuk menahan air mataku. Karena kalau aku berbicara banyak, air mataku pasti akan tumpah.
“Jangan boong, Rei. Gue kenal lo bukan dari kemarin.”
Aku tidak bisa menahan. Tadinya aku berusaha untuk menyimpan masalahku
sendirian. Tapi tidak bisa. Ya, karena aku memang tidak bisa
menyembunyikan apapun dari Nisa. Sampai akhirnya aku menangis sejadinya.
Aku menceritakan semua yang aku alami beberapa hari lalu dengan Rian
dan juga Rendy.
Nisa memelukku dan mencoba menenangkanku. “Lo gak salah, Rei. Wajar
kalo lo minta waktu. Gue tau ini gak mudah kan buat lo, meskipun gue
belom pernah ngerasain ini. Tapi percaya sama gue, Rei, everything will
be okay soon. Sekarang lo boleh nangis. Puas-puasin aja, Rei. Tapi janji
abis ini jangan nangis lagi ya.” katanya, masih dengan terus memelukku.
Mereka kembali. Rian dan Rendy. Mereka kembali mencoba untuk masuk ke
dalam hidupku lagi. Rian yang berusaha untuk memperbaiki masa lalu
kami, dan Rendy yang berusaha untuk memperbaiki hubungan kami. Dan aku
sadar kalau aku masih menyayangi keduanya.
Rian sangat perhatian padaku. Membuatku seolah-olah wanita paling
beruntung. Tetapi selama kedekatan kami kali ini, aku tidak merasakan
hal senyaman dulu. Sebelum dia menjauh dariku. Yang aku rasakan
hanyalah, ada batas di antara kita. Entah apa.
Rendy juga melakukan hal yang sama. Nggak ada yang berubah sejak kita
berpisah. Dia juga sangat perhatian padaku. Dan aku masih tetap merasa
beruntung pernah mengenal dan masuk dalam hidupnya.
Masa sulit saat Rian menyatakan semua perasaannya dan saat aku pisah
dengan Rendy sudah hampir kulewati seiring berjalannya waktu. Tapi kini
datang masalah lain disaat 2 orang yang aku sayangi, menyayangiku juga
dan keduanya mengharap lebih. Kebimbanganku muncul. Dimana aku kembali
tidak tahu harus berbuat apa. Tapi lambat laun, aku menyadari perbedaan
perasaanku kepada keduanya.
Aku cerita kepada Nisa soal tentang apa yang sedang aku pikirkan jika
aku lebih dekat dengan Rian atau Rendy. “Jadi gue harus gimana, Nis?”
tanyaku.
“Lo harus milih, Rei. Lo gak bisa mau milikin keduanya. Hidup itu kan
pilihan. Kalo lo mau lebih deket sama Rian, lupain Rendy. Jauhin dia.
Tapi kalo lo ngerasa lebih nyaman sama Rendy, jauhin Rian. Jangan bikin
dia berharap sama kedekatan kalian sekarang. Lo tau mana yang terbaik
buat lo, tapi lo takut buat melangkah. Yakin, Rei.”
Tiba-tiba air mataku sudah menggenang di pelipis mataku. “Gue gak bisa,
Nis. Mereka baik banget sama gue. Gue ga bisa tegas sama mereka. Rian
mau UN, Nis. Gue takut banget gue ganggu konsentrasinya dia. Tapi gue
gak bisa ngejauhin Rendy gitu aja. Dia baik banget sama gue, Nis. Dia
nunjukin rasa sayangnya ke gue yang mungkin ga bisa gue dapetin dari
orang lain.”
Setelah pembicaraan itu, aku banyak berpikir mengenai ini. Nisa juga
bilang lebih baik sakit sekarang daripada sakit belakangan. Dan akhirnya
aku memutuskan untuk bilang pada Rian yang sebenarnya. Karena ternyata
aku masih sangat menyayangi Rendy.
Aku bertemu dengannya di suatu tempat. “Ada yang mau aku omongin, Yan.” kataku memulai percakapan.
“Apa, Rei?”
“Yan, aku gak bisa gini terus. Aku gak mau dibilang mainin kamu ataupun
Rendy. Aku gak mau ngasih kamu harapan apa-apa karena aku gak tau apa
yang akan terjadi nanti. Aku gak bisa bohongin perasaan aku, Yan. Aku
kehilangan Rendy. Bukan maksud aku bilang kalo aku putus gara-gara kamu,
aku cuma mau utarain apa yang aku rasain. Aku sayang sama kamu sebagai
kakak ku, Yan. Hatiku kebagi, tapi akhirnya kita harus memilih, kan?”
Terlihat ekspresi kaget dari wajahnya. Aku tahu pasti sakit mendengar
kalimat seperti itu dari orang yang kita sayangi. Makanya, sebisa
mungkin aku menjaga kalimat-kalimatku. Dan dia berkata, “Kamu masih
sayang sama dia? Iya, Rei, gak apa-apa. Aku gak bisa maksa kamu. Maafin
aku kalo aku udah ganggu kamu. Aku cuma mau kamu tau kalo cuma kamu
orang yang bakal aku sayang.”
“Yan, sadar ga sih kamu tuh masih terlalu muda banget buat berkomitmen
kayak gitu? Mending kamu tarik komitmennya. Lupain aku. Kamu gak akan
tau apa yang akan terjadi kedepan. Aku ga mau kamu nungguin aku yang gak
bisa janjiin apa-apa, Yan..”
“Aku akan lakukan apapun, Rei. Tapi kalo pikiran dan hati aku belum bisa
terlepas dari kamu, ya aku ga tau. Logika dan hati ga bisa sejalan,
Rei. Logika aku dari dulu udah nyuruh buat ninggalin kamu, tapi hati aku
bilang gak bisa.”
“Sama-sama belajar ya, Yan. Aku yakin kamu bisa. Toh, aku gak
bener-bener ninggalin kamu. Kamu tetep kakakku yang paling aku sayang,
Yan. Ya udah, cuma itu yang mau aku bilang. Sukses UN dan semuanya ya,
Yan.” kataku mengakhiri obrolan kami dan ingin segera meninggalkannya.
Saat aku ingin meninggalkannya, tiba-tiba dia menarik tanganku dan
berkata, “Izinin aku bilang ini sekali lagi, Rei… Aku sayang sama kamu.”
Aku hanya bisa membalas kalimatnya dengan senyuman, lalu segera pergi
meninggalkannya. Aku lega karena akhirnya aku bisa mengeluarkan isi
hatiku tentangnya. Aku juga lega karena mungkin sedikit demi sedikit dia
bisa menerima semuanya.
Sekarang aku sudah kembali bersama Rendy meskipun aku masih
menyayangi Rian sebagai kakakku yang paling hebat. Aku mengutip sebuah
kalimat dari jejaring sosialku yang bertuliskan, “Rasa sayang ada dalam
persahabatan. Rasa sayang ada dalam percintaan. Tapi ada satu yang
membedakannya yaitu rasa ingin memiliki.”
Aku menyayangi 2 orang sekaligus dalam waktu yang sama. Dan pada
akhirnya aku menyadari bahwa ada perasaan yang berbeda terhadap
keduanya. Rasa sayangku terhadap Rian hanya sebatas adik ke kakaknya.
Lalu Rendy, dia memang juara dalam segala hal. Nggak berubah dari
penilaian awalku tentang dia. Konsisten. Dan itu yang membuatku sangat
menyayanginya.
Dan aku baru menyadari sekarang. Inilah fase yang disebut sebagai
masa-masanya remaja labil. Perubahan dari remaja SMP labil menjadi
remaja SMA yang sudah bisa menentukan mana yang baik dan yang buruk. Dan
semua akan menjadi indah pada waktunya.
#Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-galau/datang-dan-kembali.html
Kumpulan Cerpen Remaja
Sabtu, 23 November 2013
Kamis, 07 November 2013
You'll Never Know
Matahari mulai memunculkan sinarnya di ufuk timur bumi, tanda hari
kini sudah pagi. Ayam-ayam berkokok serentak membangunkan orang orang
yang masih terlelap dalam tidur mereka. Carla terbangun dari tidur
nyeyaknya dan segera beranjak menuju kamar mandi untuk segera
bersiap-siap menuju sekolahnya
“Carla cepatlah, kita bisa terlambat” teriak Mafalda sahabat sekaligus teman sekamar di tempat kost yang di sewa nya
“sebentar” Carla berteriak balik dan segera keluar dari kamarnya sebelum Mafalda meninggalkannya
Mereka berjalan beiringan menuju sekolah yang sama, namun mereka tidak berada dalam kelas yang sama. Carla berada di kelas Bahasa sedangkan Mafalda berada di kelas Ipa. Hari itu mereka tepat waktu atau lebih tepatnya tepat ketika bel berbunyi mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mafalda segera berlari menuju kelas nya begitupun dengan Carla
“syukurlah aku tidak terlambat lagi” gumam Carla saat memasuki kelasnya
Carla berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Olivia, dan berada persis di depan bangku Joshua, teman sekelasnya yang selalu membuat lelucon konyol dan juga biang keributan di dalam kelas. Dan Carla juga sering menjadi penyebab salah satu keributan itu bersama dengan Joshua
“Carla” Joshua memanggilnya saat pelajaran baru saja dimulai
“aku bawa kartu poker. Ayo kita main” ajaknya dengan tersenyum lebar
“jangan! Ini sedang jam pelajaran, mainlah nanti” cegah Olivia
“Ayo!” seru Carla bersemangat sementara Olivia dan Jason teman sebangku Joshua hanya menghela nafas pasrah oleh tingkah laku kedua teman mereka itu
Joshua dan Carla sibuk dengan dunia mereka sendiri sementara guru mereka sedang menjelaskan pelajaran di depan. Tanpa mereka sadari guru itu mengetahui bahwa Carla dan Joshua tidak memperhatikan pelajarannya tanpa memberi peringatan dia pun langsung mendatangi tempat duduk mereka berdua
“apa yang kalian lakukan?!” bentaknya
Carla dan Joshua yang kaget langsung memasukkan kartu mereka ke dalam saku seragam masing-masing
“tidak apa-apa, pak” ucap mereka bebarengan
“Carla sejak kapan papan tulis menghadap ke belakang?! Hadap ke depan!” serunya dan Carla langsung membalikkan tubuhnya
“kembali perhatikan pelajaran!” seru guru itu sebelum kembali melanjutkan pelajarannya
Sementara disisi lain Carla dan Joshua justru menertawakan entah hal apa yang menurut mereka lucu. Walaupun hanya terkikik pelan namun keadaan kelas yang sepi membuah mereka sangat mudah tertangkap
“Carla, Joshua. Keluar dari kelas saya sekarang!!” guru itu berteriak, yang membuat Carla dan juga Joshua terdiam seketika
Setelah mencoba meminta maaf namun tidak ada gunanya, akhirnya Carla dan Joshua pun keluar dari kelas dan duduk di taman yang berada di depan kelas mereka. Mereka saling bercakap-cakap dan seperti biasa membicarakan lelucon lelucon konyol dan akan tertawa bersama-sama atau lebih tepatnya Carla yang akan tertawa hingga memegangi perutnya
Tepat saat mereka masih duduk di taman, Mafalda lewat di koidor kelas mereka dan melihat Carla berada di luar kelas
“Carla” Mafalda melambaikan tangannya pada Carla yang masih sibuk tertawa “kenapa kau tidak berada di kelas?” tanyanya
Carla pun menghentikan tawanya dengan susah payah dan berjalan menuju Mafalda “aku mendapat hukuman bersama dengan Joshua” jawab Carla
“yah, jangan sering bermain di kelas! Dasar kau. Ya sudah aku kembali ke kelas dulu” ucap Mafalda sebelum kembali ke kelasnya
“siapa tadi?” tanya Joshua saat Carla kembali menghampirinya
“Mafalda, temanku” jawab Carla
“hey, boleh aku minta nomer ponselnya?” pinta Joshua
“minta saja sendiri” ucap Carla sambil menjulurkan lidahnya
Tanpa di duga Joshua langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Mafalda yang belum sempat masuk ke dalam kelas. Tentu Mafalda langsung memberikan nomer ponselnya karena dia tau bahwa Joshua adalah teman dari sahabatnya sendiri
Beberapa minggu berlalu setelah Joshua meminta nomor ponsel Mafalda dan akhir-akhir ini dia juga sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan Mafalda pada Carla. Carla yang tidak tau apa maksud Joshua sebernarnya pun memberitahukan apa yang dia tau tentang Mafalda. Warna kesukaan barang barang kesukaannya dan lainnya
Sampai pada suatu hari, Carla tidak tau kenapa Joshua tiba-tiba menghindarinya. Dia bahkan tidak berbicara sama sekali pada Carla bahkan saat Carla mencoba bertanya padanya. Dia akan memutar tempat duduknya ke arah lain saat Carla mencoba menanyakan sesuatu padanya atau mengajaknya berbicara
“apa yang sebenarnya terjadi padamu, huh?” tanya Olivia pada akhirnya yang mengetahui perubahan sikap Joshua yang sangat drastis
“frustasi mungkin” canda Carla
Dan Joshua sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka
“sudahlah biarkan saja. Dia akan segera baikan” ucap Jason
Dan beberapa hari setelah itu Carla baru mengetahui bahwa Joshua telah menyatakan perasaannya pada Mafalda, temannya sendiri. Tidak bisa di pungkiri bahwa Carla merasa sedih karena sejujurnya dia menyimpan perasaan pada Joshua sejak lama. Dan dia baru menyadari mengapa Joshua selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Mafalda. Apakah mungkin itu juga yang membuat nya menghindari Carla selama ini?
“wah, jadi kau menerimanya. Selamat!” ucap Carla sambil tertawa riang di depan Mafalda saat sahabatnya itu memberitahunya bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Joshua
“aku kira dia menyukaimu” ucap Mafalda yang membuat Carla terdiam sejenak
“tentu saja tidak. Kami hanya teman biasa” ucapnya
“aku tau. Terima kasih” gumam Mafalda dan memeluk erat sahabat terbaiknya itu
Carla berangkat ke sekolah seperti biasa walaupun Mafalda sudah berangkat lebih dulu karena dia terlambat bangun pagi tadi. Sampai di kelas di menemukan Joshua yang sudah kembali berubah seperti dulu, Joshua yang periang dan selalu menceritakan lelucon lelucon konyolnya
“jadi kau menghindariku beberapa hari ini karena kau sudah berpacaran dengan Mafalda?” tanya Carla saat mereka sudah kembali menjadi biang keributan di kelas
“ha? Eum- aku hanya. Yah hm” jawab Joshua bingung atas pertanyaan Carla
“hahaha oh ya, selamat ya!” ucap Carla yang melihat kebingungan di wajah Joshua
“terima kasih” ucapnya
‘you’ll never know what i feel’ batin Carla sedih dalam hatinya.
#Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/youll-never-know.html
“Carla cepatlah, kita bisa terlambat” teriak Mafalda sahabat sekaligus teman sekamar di tempat kost yang di sewa nya
“sebentar” Carla berteriak balik dan segera keluar dari kamarnya sebelum Mafalda meninggalkannya
Mereka berjalan beiringan menuju sekolah yang sama, namun mereka tidak berada dalam kelas yang sama. Carla berada di kelas Bahasa sedangkan Mafalda berada di kelas Ipa. Hari itu mereka tepat waktu atau lebih tepatnya tepat ketika bel berbunyi mereka sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mafalda segera berlari menuju kelas nya begitupun dengan Carla
“syukurlah aku tidak terlambat lagi” gumam Carla saat memasuki kelasnya
Carla berjalan menuju tempat duduknya yang berada di sebelah Olivia, dan berada persis di depan bangku Joshua, teman sekelasnya yang selalu membuat lelucon konyol dan juga biang keributan di dalam kelas. Dan Carla juga sering menjadi penyebab salah satu keributan itu bersama dengan Joshua
“Carla” Joshua memanggilnya saat pelajaran baru saja dimulai
“aku bawa kartu poker. Ayo kita main” ajaknya dengan tersenyum lebar
“jangan! Ini sedang jam pelajaran, mainlah nanti” cegah Olivia
“Ayo!” seru Carla bersemangat sementara Olivia dan Jason teman sebangku Joshua hanya menghela nafas pasrah oleh tingkah laku kedua teman mereka itu
Joshua dan Carla sibuk dengan dunia mereka sendiri sementara guru mereka sedang menjelaskan pelajaran di depan. Tanpa mereka sadari guru itu mengetahui bahwa Carla dan Joshua tidak memperhatikan pelajarannya tanpa memberi peringatan dia pun langsung mendatangi tempat duduk mereka berdua
“apa yang kalian lakukan?!” bentaknya
Carla dan Joshua yang kaget langsung memasukkan kartu mereka ke dalam saku seragam masing-masing
“tidak apa-apa, pak” ucap mereka bebarengan
“Carla sejak kapan papan tulis menghadap ke belakang?! Hadap ke depan!” serunya dan Carla langsung membalikkan tubuhnya
“kembali perhatikan pelajaran!” seru guru itu sebelum kembali melanjutkan pelajarannya
Sementara disisi lain Carla dan Joshua justru menertawakan entah hal apa yang menurut mereka lucu. Walaupun hanya terkikik pelan namun keadaan kelas yang sepi membuah mereka sangat mudah tertangkap
“Carla, Joshua. Keluar dari kelas saya sekarang!!” guru itu berteriak, yang membuat Carla dan juga Joshua terdiam seketika
Setelah mencoba meminta maaf namun tidak ada gunanya, akhirnya Carla dan Joshua pun keluar dari kelas dan duduk di taman yang berada di depan kelas mereka. Mereka saling bercakap-cakap dan seperti biasa membicarakan lelucon lelucon konyol dan akan tertawa bersama-sama atau lebih tepatnya Carla yang akan tertawa hingga memegangi perutnya
Tepat saat mereka masih duduk di taman, Mafalda lewat di koidor kelas mereka dan melihat Carla berada di luar kelas
“Carla” Mafalda melambaikan tangannya pada Carla yang masih sibuk tertawa “kenapa kau tidak berada di kelas?” tanyanya
Carla pun menghentikan tawanya dengan susah payah dan berjalan menuju Mafalda “aku mendapat hukuman bersama dengan Joshua” jawab Carla
“yah, jangan sering bermain di kelas! Dasar kau. Ya sudah aku kembali ke kelas dulu” ucap Mafalda sebelum kembali ke kelasnya
“siapa tadi?” tanya Joshua saat Carla kembali menghampirinya
“Mafalda, temanku” jawab Carla
“hey, boleh aku minta nomer ponselnya?” pinta Joshua
“minta saja sendiri” ucap Carla sambil menjulurkan lidahnya
Tanpa di duga Joshua langsung berdiri dari duduknya dan berlari menghampiri Mafalda yang belum sempat masuk ke dalam kelas. Tentu Mafalda langsung memberikan nomer ponselnya karena dia tau bahwa Joshua adalah teman dari sahabatnya sendiri
Beberapa minggu berlalu setelah Joshua meminta nomor ponsel Mafalda dan akhir-akhir ini dia juga sering menanyakan hal-hal yang bersangkutan dengan Mafalda pada Carla. Carla yang tidak tau apa maksud Joshua sebernarnya pun memberitahukan apa yang dia tau tentang Mafalda. Warna kesukaan barang barang kesukaannya dan lainnya
Sampai pada suatu hari, Carla tidak tau kenapa Joshua tiba-tiba menghindarinya. Dia bahkan tidak berbicara sama sekali pada Carla bahkan saat Carla mencoba bertanya padanya. Dia akan memutar tempat duduknya ke arah lain saat Carla mencoba menanyakan sesuatu padanya atau mengajaknya berbicara
“apa yang sebenarnya terjadi padamu, huh?” tanya Olivia pada akhirnya yang mengetahui perubahan sikap Joshua yang sangat drastis
“frustasi mungkin” canda Carla
Dan Joshua sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka
“sudahlah biarkan saja. Dia akan segera baikan” ucap Jason
Dan beberapa hari setelah itu Carla baru mengetahui bahwa Joshua telah menyatakan perasaannya pada Mafalda, temannya sendiri. Tidak bisa di pungkiri bahwa Carla merasa sedih karena sejujurnya dia menyimpan perasaan pada Joshua sejak lama. Dan dia baru menyadari mengapa Joshua selalu menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan Mafalda. Apakah mungkin itu juga yang membuat nya menghindari Carla selama ini?
“wah, jadi kau menerimanya. Selamat!” ucap Carla sambil tertawa riang di depan Mafalda saat sahabatnya itu memberitahunya bahwa dia telah resmi berpacaran dengan Joshua
“aku kira dia menyukaimu” ucap Mafalda yang membuat Carla terdiam sejenak
“tentu saja tidak. Kami hanya teman biasa” ucapnya
“aku tau. Terima kasih” gumam Mafalda dan memeluk erat sahabat terbaiknya itu
Carla berangkat ke sekolah seperti biasa walaupun Mafalda sudah berangkat lebih dulu karena dia terlambat bangun pagi tadi. Sampai di kelas di menemukan Joshua yang sudah kembali berubah seperti dulu, Joshua yang periang dan selalu menceritakan lelucon lelucon konyolnya
“jadi kau menghindariku beberapa hari ini karena kau sudah berpacaran dengan Mafalda?” tanya Carla saat mereka sudah kembali menjadi biang keributan di kelas
“ha? Eum- aku hanya. Yah hm” jawab Joshua bingung atas pertanyaan Carla
“hahaha oh ya, selamat ya!” ucap Carla yang melihat kebingungan di wajah Joshua
“terima kasih” ucapnya
‘you’ll never know what i feel’ batin Carla sedih dalam hatinya.
#Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/youll-never-know.html
Biarkan Waktu Yang Menjawab
Perkenalkan namaku Raisa Amanda Larasati, panggil saja aku Raisa. Aku
baru saja menginjak usia 17 tahun, sekarang aku menempati bangku SMA.
Saat pertama masuk SMA aku langsung mempunyai teman, mereka adalah
Kania, Vhani, Elena, Alex dan Raihan. Kita selalu main bareng, kadang
saat pulang sekolah kita sering sekali main di rumah salah satu di
antara kita. Hal itu sangat menyenangkan bagiku, karena aku memiliki
teman seperti mereka yang asik dan seru.
Dulu kita sekelas saat kelas 10, tapi saat kenaikan kelas kita berbeda kelas, ada yang masuk kelas IPA dan ada juga yang masuk IPS. Tapi hal itu gak ngejadiin kita pisah pertemanan hehehe, justru itu malah ngejadiin pertemanan kita semakin erat, karena kita jadi semakin sering bertukar cerita dan pengalaman yang kita lakuin di jurusan masing-masing. Hal itu sangat menyenangkan bagi kita, karena dengan hal itu kita jadi tau apa yang tadinya kita ga tau. Hampir setiap hari kita lakuin itu, kita gak pernah bosan ngelakuin hal itu. Amat sangat menyenangkan… Sampai suatu ketika hal yang pernah aku takutkan terjadi, yaitu ‘jatuh cinta kepada teman sendiri’. Aku merasakan perasaan yang berbeda akhir-akhir ini saat sedang bersama raihan. Aku merasakan perasaan yang tidak sama seperti biasanya.
Awalnya aku hanya mengangap itu cuma perasaan sayang terhadap teman, tapi lama kelamaan aku semakin merasa bahwa itu lebih dari perasaan sekedar teman. Aku selalu terbayang-bayang sama semua hal yang berhubungan tentang dia, aku sendiri gak ngerti kenapa hal itu bisa terjadi. Aku sangat tidak menyangka, apa boleh buat perasaan ini sudah muncul. Perasaan ini bukan aku yang menginginkannya, perasaan ini muncul dengan sendirinya… Tapi aku takut, aku takut pertemanan kita jadi tidak menyenangkan jika dia mengetahui tentang perasaanku. Aku hanya tidak ingin hal itu terjadi antara aku dengannya.
Cinta memang selalu datang dengan tiba-tiba, tidak ada yang bisa menebak kapan cinta itu datang dan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Perasaan itu tidak pernah bisa dibohongi. Sama seperti perasaanku, aku tidak bisa terus membohongi perasaanku sendiri, perasaan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Tapi apa dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku? Aku tidak ingin jatuh cinta kepada orang yang salah! Tapi dia begitu baik kepadaku, aku ga mau salah mengartikan kebaikannya. Mungkin saja dia baik hanya karena aku temannya. Aku berusaha mencoba menghilangkan perasaan ku padanya, tapi kenapa tidak pernah bisa?! Semakin hari malah semakin bertambah rasa sayang ku padanya. Tapi tidak ada seorang pun yang tau bahwa selama ini aku mencintai raihan. Termasuk kania, vhani, dan Elena.. Mereka tidak mengetahui tentang perasaanku pada raihan.
Sebenernya sih nggak enak mendem perasaan kaya gini, tapi aku bingung harus ngelakuin apa. Aku gak mau pertemanan kita jadi ancur cuma gara-gara aku jatuh cinta sama dia.. Sekarang kita masih tetep main bareng, jalan bareng dan ngelakuin hal yang biasanya kita lakuin bareng-bareng. Seneng rasanya kalau lagi sama mereka, mereka juga salah satu penyemangat belajarku. Aku takut kalau harus kehilangan mereka, mereka sudah kaya saudara sendiri bagiku. Aku gak mau kehilangan mereka, tapi bagaimana dengan perasaanku? Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai juga, tapi aku juga gak mau kehilangan teman-teman ku. Raihan sangat baik, dia sangat jauh berbeda sifatnya dengan cowo-cowo lainnya. Kenapa aku menyayanginya lebih dari seorang teman? Perasaan yang selama ini aku khawatirkan. Tapi apa mungkin aku dan dia bersatu dalam ikatan ‘pacar’? Apa dia juga mempunyai perasaan yang sama kepadaku? Gak ada satu orang pun yang tau jawaban dari pertanyaan itu. Tapi raihan selalu bilang kalau di dunia ini gak ada yang gak mungkin, semuanya pasti bakal terjadi kalau kita mau berusaha dan berdoa dan kalo kita yakin kita bisa, itu semua akan terwujud. Cuma waktu yang bisa ngejawab semuanya..
Aku hanya bisa berharap, berdoa, dan berusaha. Sampai kapan aku harus memendam perasaan ini Tuhan.. Aku hanya ingin dia tau tanpa merusak pertemanan kami. Sampai kapan aku harus menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang aku buat? Kapan aku akan mendapatkan jawabannya? Rasanya lelah terus-menerus menunggu..
#Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/biarkan-waktu-yang-menjawab.html
Dulu kita sekelas saat kelas 10, tapi saat kenaikan kelas kita berbeda kelas, ada yang masuk kelas IPA dan ada juga yang masuk IPS. Tapi hal itu gak ngejadiin kita pisah pertemanan hehehe, justru itu malah ngejadiin pertemanan kita semakin erat, karena kita jadi semakin sering bertukar cerita dan pengalaman yang kita lakuin di jurusan masing-masing. Hal itu sangat menyenangkan bagi kita, karena dengan hal itu kita jadi tau apa yang tadinya kita ga tau. Hampir setiap hari kita lakuin itu, kita gak pernah bosan ngelakuin hal itu. Amat sangat menyenangkan… Sampai suatu ketika hal yang pernah aku takutkan terjadi, yaitu ‘jatuh cinta kepada teman sendiri’. Aku merasakan perasaan yang berbeda akhir-akhir ini saat sedang bersama raihan. Aku merasakan perasaan yang tidak sama seperti biasanya.
Awalnya aku hanya mengangap itu cuma perasaan sayang terhadap teman, tapi lama kelamaan aku semakin merasa bahwa itu lebih dari perasaan sekedar teman. Aku selalu terbayang-bayang sama semua hal yang berhubungan tentang dia, aku sendiri gak ngerti kenapa hal itu bisa terjadi. Aku sangat tidak menyangka, apa boleh buat perasaan ini sudah muncul. Perasaan ini bukan aku yang menginginkannya, perasaan ini muncul dengan sendirinya… Tapi aku takut, aku takut pertemanan kita jadi tidak menyenangkan jika dia mengetahui tentang perasaanku. Aku hanya tidak ingin hal itu terjadi antara aku dengannya.
Cinta memang selalu datang dengan tiba-tiba, tidak ada yang bisa menebak kapan cinta itu datang dan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Perasaan itu tidak pernah bisa dibohongi. Sama seperti perasaanku, aku tidak bisa terus membohongi perasaanku sendiri, perasaan yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Tapi apa dia juga mempunyai perasaan yang sama denganku? Aku tidak ingin jatuh cinta kepada orang yang salah! Tapi dia begitu baik kepadaku, aku ga mau salah mengartikan kebaikannya. Mungkin saja dia baik hanya karena aku temannya. Aku berusaha mencoba menghilangkan perasaan ku padanya, tapi kenapa tidak pernah bisa?! Semakin hari malah semakin bertambah rasa sayang ku padanya. Tapi tidak ada seorang pun yang tau bahwa selama ini aku mencintai raihan. Termasuk kania, vhani, dan Elena.. Mereka tidak mengetahui tentang perasaanku pada raihan.
Sebenernya sih nggak enak mendem perasaan kaya gini, tapi aku bingung harus ngelakuin apa. Aku gak mau pertemanan kita jadi ancur cuma gara-gara aku jatuh cinta sama dia.. Sekarang kita masih tetep main bareng, jalan bareng dan ngelakuin hal yang biasanya kita lakuin bareng-bareng. Seneng rasanya kalau lagi sama mereka, mereka juga salah satu penyemangat belajarku. Aku takut kalau harus kehilangan mereka, mereka sudah kaya saudara sendiri bagiku. Aku gak mau kehilangan mereka, tapi bagaimana dengan perasaanku? Aku tidak ingin kehilangan orang yang aku cintai juga, tapi aku juga gak mau kehilangan teman-teman ku. Raihan sangat baik, dia sangat jauh berbeda sifatnya dengan cowo-cowo lainnya. Kenapa aku menyayanginya lebih dari seorang teman? Perasaan yang selama ini aku khawatirkan. Tapi apa mungkin aku dan dia bersatu dalam ikatan ‘pacar’? Apa dia juga mempunyai perasaan yang sama kepadaku? Gak ada satu orang pun yang tau jawaban dari pertanyaan itu. Tapi raihan selalu bilang kalau di dunia ini gak ada yang gak mungkin, semuanya pasti bakal terjadi kalau kita mau berusaha dan berdoa dan kalo kita yakin kita bisa, itu semua akan terwujud. Cuma waktu yang bisa ngejawab semuanya..
Aku hanya bisa berharap, berdoa, dan berusaha. Sampai kapan aku harus memendam perasaan ini Tuhan.. Aku hanya ingin dia tau tanpa merusak pertemanan kami. Sampai kapan aku harus menunggu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang aku buat? Kapan aku akan mendapatkan jawabannya? Rasanya lelah terus-menerus menunggu..
#Sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-persahabatan/biarkan-waktu-yang-menjawab.html
Masa-masa Putih Abu-abu
Masih ku ingat saat-saat aku masih memakai seragam putih abu-abu,
saat ku jatuh hati pada guru ku sendiri, pacaran bersama pacar
sahabatku, saat ku menangis karena lelaki yang sangat ku cintai
berpacaran dengan teman dekat ku sendiri, siswa lelaki yang selalu
bermain kuda templok di kelas, bermain kartu remi, dan juga ada istilah
untuk Ketua Murid di kelas ku yang selalu disebut dengan panggilan “KM
Teu Eucreug”, foto-foto bareng di Kiara Payung saat pembuatan film untuk
tugas seni budaya, foto di persawahan, melempar tas ke belakang sekolah
hanya untuk bolos lewat sebuah jembatan, rasanya… hati ini sangat
merindukan masa-masa itu masa-masa yang menurut ku masa paling indah.
Malam ini aku kembali teringat akan masa-masa itu, sembari memandangi fotoku bersama ketiga sahabatku Dinda, Winda, dan Nindi saat perpisahan sekolah dengan tersenyum mengingat akan semua itu.
“guy’s.. walaupun nanti kita tidak akan sering bertemu lagi… tapi… persahabatan kita harus tetap abadi selamanya…” kataku
“ok… oh… iya setelah ini kalian jangan pernah lupain aku ya…” ucap Nindi
“ya…” kataku di lanjut oleh Dinda dan Winda.
“guy’s… COZERIIIII… Hah…” ucap kami berempat secara kompak.
Aku yang sedari tadi membayangkan masa-masa itu langsung tersenyum mengingatnya.
Kembali aku melamun lagi, seperti sebelumnya dimana aku melamunkan masa-masa pahit manisnya saat aku SMK dahulu.
23 Juli 2009
Siang itu aku di sekolah sedang asyiknya bercanda tawa dengan teman-temanku di kelas, di tengah obrolan ku, datang Viona menghampiri ku.
“hey… temen-temen… lagi apa nih…?” Tanya Viona
“hey… Vi, kita lagi ngobrol-ngobrol aja, gabung aja Vi biar tambah rame…” kata Winda disertai dengan anggukan kecil ku.
“ok, oh… ia guy’s, kalian tahu nggak sih kalau di kelas kita ini ada lelaki yang diem-diem sering merhatiin Shilla, dan tiap hari nanyain Shilla…aaa… melulu… dan dia suka loh sama Shilla” kata Viona
Aku langsung terkejut saat mendengar perkataan Viona yang bilang ada lelaki yang menyukaiku tersebut.
“oh… iya Shill tahu nggak siapa lelaki itu?” kata Viona. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
“lelaki itu, Rangga…” Ucap Viona
Aku kembali memutar otakku, apa benar yang di katakan Viona, kalau Rangga menyukai ku, tapi aku sendiri tak yakin dengan kata-kata Viona barusan, Hingga keesokan harinya Viona memberikan Nickname dari akun facebooknya Rangga yang bernama “Rangga zha”, setelah ku pulang dari sekolah aku kembali membuka akun facebook ku dan langsung menambahkan Rangga ke pertemananku. Tak lama aku menambahkan dia langsung confirm pertemananku, dan langsung ku buka profilnya Rangga ku lihat foto-fotonya astagaaa… tampan sekali dia, dan kulihat statusnya dia juga masih single dan entah kenapa hati ini terasa bahagia sekali selain dia tampan dan lajang dia juga kata Viona selalu merhatiin aku, Oh.. God apa aku mulai jatuh cinta?.
Ashilla: Hey.. kamu Rangga kan…
Rangga: Hey juga… iya, kalau kamu Shilla kan…
Ashilla: Yupz… em… Rangga, aku boleh Tanya sesuatu nggak sama kamu?
Rangga: Tanya apa Shill, silahkan aja?
Ashilla: Eh.. nggak jadi Rangga, aku lupa, hehehe.. by the way kamu lagi apa?
Rangga: Diem aja di rumah, kamu sendiri?
Ashilla: Chatting
Rangga: Sama Siapa?
Ashilla: Sama Rangga lah, di kontak chat nggak ada yang Shilla kenal lagi selain Rangga..
Rangga: oh…
Ashilla: irit banget balesnya..
Rangga: Keabisan kata-kata Shill..
Ashilla: Hmmm…
Keesokan harinya saat jam olahraga aku tengah berlari ke lapangan tak sengaja aku dan Rangga bertabrakan.
“maaf…” kataku
“ya nggak apa-apa” jawab Rangga dengan datar.
“OMG… kenapa saat aku tabrakan dengan Rangga jantungku terasa berdebar-debar…? apa ini yang namanya cinta pertama, apa aku jatuh hati sama Rangga.” gumamku dalam hati
Saat itu aku mulai jatuh hati untuk yang pertama kalinya pada Rangga, dan juga akan menjadikan suatu penantian yang sangat panjang.
Saat aku tengah duduk di bangku kelas XI SMK, aku masih saja ada rasa pada Rangga walau pun Rangga tak tau tentang perasaan ku selama ini, dan aku selalu mengharapkan agar Rangga bisa menyatakan cintanya padaku. Namun, hasilnya nihil saat itu harapan aku agar bisa menjalin kasih dengan Rangga malah bertepuk sebelah tangan Rangga saat itu telah berhubungan dengan teman dekatku sendiri Citra, aku tahu semua itu tak sengaja saat ku sedang membuka akun facebookku terlihat Didi mengomentari sebuah update statusnya Rangga dan menanyakan pada Rangga tentang hubungannya dengan Citra, aku disitu terkejut dan hampir tak percaya ternyata lelaki yang selama ini aku cintai selama satu tahun telah berhubungan dengan teman dekat ku sendiri.
Namun bodohnya aku, aku masih saja mengharapkan Rangga dan masih menantikannya hingga aku duduk di kelas XII SMK. Di Sekolah aku kembali meratapi kesedihanku, rasanya sulit dipercaya saat ku dengar lelaki yang ku cintai telah menjalin kasih dengan temanku sendiri. Saat jam istirahat aku yang sedari tadi duduk di bangku ku, tiba-tiba Irman salah satu teman sekelasku yang secara langsung menyatakan cintanya padaku, namun aku menolak cintanya Irman dengan alasan aku sedang tak ingin jatuh cinta dan menjalin kasih dahulu karena aku masih ingin sendiri dahulu dan sangat trauma terhadap yang namanya cinta.
21 Juli 2012
Di hari Sabtu adalah hari dimana aku dan teman-temanku melaksanakan event “wisuda angkatan 2011-2012”, hari itu aku berangkat ke sekolah dengan mengenakan pakaian kebaya orange, aku datang dengan didampingi mama ku. Ku lihat Rangga saat itu memakai stelan jas hitam dengan gagahnya, entah kenapa aku langsung terpesona lagi dengan penampilan Rangga saat itu. Bukan hanya Rangga yang terlihat gagah saat mengenakan stelan jas hitamnya, bahkan saat itu Rangga telah lama putus dengan Citra, aku yang mendengarnya lewat teman-temanku senang sekali, dan kembali mengharapkan agar Rangga bisa jatuh hati padaku.
Hingga tanpa ku sadari saat ku tengah melamun airmata ku tak sengaja membasahi album foto kenangan saat SMK. Aku selalu berpikir seandainya waktu bisa diputar, ingin rasanya aku kembali ke masa-masa itu walau banyak kenangan pahit yang kurasakan, semua itu akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan.
#Sumber : http://cerpenmu.com/category/cerpen-cinta-pertama
Malam ini aku kembali teringat akan masa-masa itu, sembari memandangi fotoku bersama ketiga sahabatku Dinda, Winda, dan Nindi saat perpisahan sekolah dengan tersenyum mengingat akan semua itu.
“guy’s.. walaupun nanti kita tidak akan sering bertemu lagi… tapi… persahabatan kita harus tetap abadi selamanya…” kataku
“ok… oh… iya setelah ini kalian jangan pernah lupain aku ya…” ucap Nindi
“ya…” kataku di lanjut oleh Dinda dan Winda.
“guy’s… COZERIIIII… Hah…” ucap kami berempat secara kompak.
Aku yang sedari tadi membayangkan masa-masa itu langsung tersenyum mengingatnya.
Kembali aku melamun lagi, seperti sebelumnya dimana aku melamunkan masa-masa pahit manisnya saat aku SMK dahulu.
23 Juli 2009
Siang itu aku di sekolah sedang asyiknya bercanda tawa dengan teman-temanku di kelas, di tengah obrolan ku, datang Viona menghampiri ku.
“hey… temen-temen… lagi apa nih…?” Tanya Viona
“hey… Vi, kita lagi ngobrol-ngobrol aja, gabung aja Vi biar tambah rame…” kata Winda disertai dengan anggukan kecil ku.
“ok, oh… ia guy’s, kalian tahu nggak sih kalau di kelas kita ini ada lelaki yang diem-diem sering merhatiin Shilla, dan tiap hari nanyain Shilla…aaa… melulu… dan dia suka loh sama Shilla” kata Viona
Aku langsung terkejut saat mendengar perkataan Viona yang bilang ada lelaki yang menyukaiku tersebut.
“oh… iya Shill tahu nggak siapa lelaki itu?” kata Viona. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
“lelaki itu, Rangga…” Ucap Viona
Aku kembali memutar otakku, apa benar yang di katakan Viona, kalau Rangga menyukai ku, tapi aku sendiri tak yakin dengan kata-kata Viona barusan, Hingga keesokan harinya Viona memberikan Nickname dari akun facebooknya Rangga yang bernama “Rangga zha”, setelah ku pulang dari sekolah aku kembali membuka akun facebook ku dan langsung menambahkan Rangga ke pertemananku. Tak lama aku menambahkan dia langsung confirm pertemananku, dan langsung ku buka profilnya Rangga ku lihat foto-fotonya astagaaa… tampan sekali dia, dan kulihat statusnya dia juga masih single dan entah kenapa hati ini terasa bahagia sekali selain dia tampan dan lajang dia juga kata Viona selalu merhatiin aku, Oh.. God apa aku mulai jatuh cinta?.
Ashilla: Hey.. kamu Rangga kan…
Rangga: Hey juga… iya, kalau kamu Shilla kan…
Ashilla: Yupz… em… Rangga, aku boleh Tanya sesuatu nggak sama kamu?
Rangga: Tanya apa Shill, silahkan aja?
Ashilla: Eh.. nggak jadi Rangga, aku lupa, hehehe.. by the way kamu lagi apa?
Rangga: Diem aja di rumah, kamu sendiri?
Ashilla: Chatting
Rangga: Sama Siapa?
Ashilla: Sama Rangga lah, di kontak chat nggak ada yang Shilla kenal lagi selain Rangga..
Rangga: oh…
Ashilla: irit banget balesnya..
Rangga: Keabisan kata-kata Shill..
Ashilla: Hmmm…
Keesokan harinya saat jam olahraga aku tengah berlari ke lapangan tak sengaja aku dan Rangga bertabrakan.
“maaf…” kataku
“ya nggak apa-apa” jawab Rangga dengan datar.
“OMG… kenapa saat aku tabrakan dengan Rangga jantungku terasa berdebar-debar…? apa ini yang namanya cinta pertama, apa aku jatuh hati sama Rangga.” gumamku dalam hati
Saat itu aku mulai jatuh hati untuk yang pertama kalinya pada Rangga, dan juga akan menjadikan suatu penantian yang sangat panjang.
Saat aku tengah duduk di bangku kelas XI SMK, aku masih saja ada rasa pada Rangga walau pun Rangga tak tau tentang perasaan ku selama ini, dan aku selalu mengharapkan agar Rangga bisa menyatakan cintanya padaku. Namun, hasilnya nihil saat itu harapan aku agar bisa menjalin kasih dengan Rangga malah bertepuk sebelah tangan Rangga saat itu telah berhubungan dengan teman dekatku sendiri Citra, aku tahu semua itu tak sengaja saat ku sedang membuka akun facebookku terlihat Didi mengomentari sebuah update statusnya Rangga dan menanyakan pada Rangga tentang hubungannya dengan Citra, aku disitu terkejut dan hampir tak percaya ternyata lelaki yang selama ini aku cintai selama satu tahun telah berhubungan dengan teman dekat ku sendiri.
Namun bodohnya aku, aku masih saja mengharapkan Rangga dan masih menantikannya hingga aku duduk di kelas XII SMK. Di Sekolah aku kembali meratapi kesedihanku, rasanya sulit dipercaya saat ku dengar lelaki yang ku cintai telah menjalin kasih dengan temanku sendiri. Saat jam istirahat aku yang sedari tadi duduk di bangku ku, tiba-tiba Irman salah satu teman sekelasku yang secara langsung menyatakan cintanya padaku, namun aku menolak cintanya Irman dengan alasan aku sedang tak ingin jatuh cinta dan menjalin kasih dahulu karena aku masih ingin sendiri dahulu dan sangat trauma terhadap yang namanya cinta.
21 Juli 2012
Di hari Sabtu adalah hari dimana aku dan teman-temanku melaksanakan event “wisuda angkatan 2011-2012”, hari itu aku berangkat ke sekolah dengan mengenakan pakaian kebaya orange, aku datang dengan didampingi mama ku. Ku lihat Rangga saat itu memakai stelan jas hitam dengan gagahnya, entah kenapa aku langsung terpesona lagi dengan penampilan Rangga saat itu. Bukan hanya Rangga yang terlihat gagah saat mengenakan stelan jas hitamnya, bahkan saat itu Rangga telah lama putus dengan Citra, aku yang mendengarnya lewat teman-temanku senang sekali, dan kembali mengharapkan agar Rangga bisa jatuh hati padaku.
Hingga tanpa ku sadari saat ku tengah melamun airmata ku tak sengaja membasahi album foto kenangan saat SMK. Aku selalu berpikir seandainya waktu bisa diputar, ingin rasanya aku kembali ke masa-masa itu walau banyak kenangan pahit yang kurasakan, semua itu akan menjadi sebuah kenangan yang tak terlupakan.
#Sumber : http://cerpenmu.com/category/cerpen-cinta-pertama
Cinta Pertama
Bunyi burung yang berkicau begitu indah, ditambah lagi langit yang mendung menambah kan hawa yang sejuk di pagi ini…
“Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama ceweknya gitu?” Celetuk nia yang dari tadi memang sedang mengamati ciara.
“…” Ciara menoleh dengan menunjukkan muka suram nya.
“Uhm iya ra sekarang gue paham, pft udah deh ra jangan diratapin melulu… Banyak kali yang lebih baik dari doi, banyak banget malah. Gue gak suka kalau ngeliat lo stuck di doi doang” okey?! Ujar nia yang memberikan ceramah singkat di pagi hari…
“Ho’oh, paham kok gue ni. Yang gue gak ngerti ya itu. Kok doi bisa ya jadian secepet itu sama cewek yang jelas jelas baru dia kenal. Sedangkan gue? Gue udah deket sama dia hampir empat tahun gini, empat tahun ni! peka aja enggak kali tuh orang kalau gue suka sama dia”.
“Lo tau kan gue bakal bilang apa? Ya karena lo nya gak pernah nunjukin kalau lo itu suka sama dia ra. Smsan bisa diitung pake jari, uhm ngobrol? Aduh jarang banget. Masih jaman gitu mencintai seseorang dalam diam? emang nya lo gak capek apa sama persepsi lo itu?” Tanya nia, karena untuk kesekian kalinya, sahabat nya itu terpuruk karena cintanya yang tak terbalas.
“Persepsi apa deh ni? Emang gue pernah apa bikin persepsi tentang hubungan gue sama dia?” Ciara pun balik bertanya terhadap nia.
“Pliss deh ra gak usah pura-pura lupa! Lo inget kan lo pernah bilang gini ‘denger ya na, fahmi itu first love gue dan gue gak bakal mau move on sebelum bisa pacaran sama dia!’ nah sekarang lo inget kan?”
“Iya ni, iya… Gue tau kok gue salah. Udah ah bete deh bahas nya. Ke kantin yuk, galau gini malah bikin gue haus.” Ajak ciara sambil meraih tangan nia.
“Ya udah ayuk, tapi inget ya ra pesan gue.” ujar nia…
“Iyaaa, ya ampun temen gue satu ini bawel ya” Jawab ciara sambil mencubit pipi nia…
Oh iya perkenal kan nama ku, ciara teman-teman biasa memanggil ku ara.
Aku jatuh cinta sama orang ini. Dia fahmi anak tim basket di sekolah ku. Kami sudah berteman sejak smp, kira-kira sudah empat tahun, walaupun begitu semenjak kami lulus SMP fahmi mulai menjauh dari kehidupan ku. Mungkin karena sekarang dia sudah terkenal, kami jadi jarang mengobrol dia pun begitu sibuk kulihat ditambah lagi dia adalah ketua osis di sekolah ku. Ah sudah lah mungkin bagi nya aku ini adalah masa lalu yang tak perlu diingat. Tapi walaupun begitu aku suka dia dari awal pertemuan kami yaitu kelas satu SMP, kala itu aku satu kelas dengan nya kami dekat hanya sekedar teman satu kelas, selebihnya aku tak ingin berharap. Hingga saat ini kami sudah kelas satu SMA. Dan perasaan ku tetap sama sampai detik ini.
“Eh gue mau mesen es teh dulu nih di jawir, lo mau gak ni?” Tanya ciara kepada nia…
“Hmmm gue boleh deh satu, teraktir ya ra hehehe”
“Iya iyaa, apa sih yang enggak buat lo” jawab ciara…
“Wir es teh nya satu ya, di gelas aja” Baru aku ingin memesan es teh, tiba-tiba ada seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinga ku. Hah! Yang benar saja dia fahmi. Aku mematung, aku tidak sanggup untuk melihat ke arahnya. Bukannya memesan es teh. Aku langsung pergi ke tempat tadi aku duduk dengan nia…
“Niaaa! Lo tau apa?! Tadi gue ketemu fahmi di tempatnya jawir. Terus bukan nya beli es teh yang lo pesen gue malah kabur” cerita ciara dengan penuh semangat…
“Yaaah, gue kira kenapa, batal dong gue minum es teh huhu. Terus ngapain juga lo mesti kabur raaa. Ketauan banget nervous nya itu ya”
“Mau gimana lagi raa, gue bener-bener nervous abis tadi, maaf deh kita beli jus aja okey?” Ujar ciara dengan muka dimelas-melasin.
“Ya udah iya iya, kali ini biar gue yang beli deh. Uangnya mana bos”
“Huhu dasar ya lo ni, ckckckck cepetan loh gak pake tebar pesona segala”.
“Iya… Tenang ajaa raa… Byee tunggu gue balik yaa”. Jawab nia kesenengan…
Satu bulan berlalu, ternyata perkembangan dia dengan pacarnya masih tetap sama. Masih romantis.
Sedangkan aku hanya bisa bertahan dengan perasaan ini. Aku tak ingin berharap tapi hati selalu berkata lain. Aku bingung dengan perasaan ini, pantaskah aku mempertahan kan perasaan ini? Ditambah lagi sekarang ada penyakit yang bersarang di tubuh ku dan tidak ada satu pun yang tau kalau aku mengidap penyakit kanker stadium akhir, kecuali dokter ku. Bahkan orang tua ku. Tapi pernah satu kali aku keceplosan cerita sama nia, Aku tidak tahan lagi menanggung beban ini. tapi aku juga tidak ingin membuat orang-orang yang aku sayangi merasa sedih atas penyakit ku ini. Yang aku ingin kan di sisa akhir hidup ku ini adalah aku dapat mengatakan perasaan ku kepada nya. Iya fahmi. Aku ingin semua nya indah dan sempurna seperti yang kuingin kan. Sampai aku di panggil oleh-NYA.
“Hey ra… Ngelamun aja lo” ujar kinan
“Duhh kaget banget tau… Hoooo iya nih sekarang lagi hobby ngelamun gue” jawab ciara asal. Ngelamun kok dijadiin hobby gitu ehehehe.
“Kenapa sih ra? Lo ada masalah? Cerita dong sama gue” tanya kinan memberikan pundak untuknya.
“Gak papa kok nan, baik gue. Eh btw nia mana ya? Kayaknya dari tadi gue gak liat deh”
“Sama ra, gue juga dari tadi gak liat… Pft kemana sih ini orang. Ke toilet kali ya ra. Ah entar juga balik”…
“Iya kali ya nan, duh mau ke toilet nih. Anterin dong nan… Plisss” ujar ciara sambil menahan panggilan alam tsb
“Ya udah yuk, gue juga lagi bete di kelas melulu dari tadi”…
Ketika perjalanan menuju toilet sekolah, aku melihat nia dan fahmi sedang membicarakan sesuatu.
“Niaaa! Elo ya kita cariin tau dari tadi… Ya kan ra?”
“I… iya ni, lo disini tenyata”
“Eh kalian, mau pada ke toilet kan? Yuk cus gue juga ikut”… Jawab nia cepat-cepat menyudahi percakapan nya dengan fahmi.
“Niaaa, kok lo ngobrol sama fahmi gak ngajak-ngajak gue siihhh? Huhu”
“Bukan nya gitu raa, tadi itu gue lagi Ngomongin bahan buat osis besok” jawab nia
“Oh gitu huft gue kira ngomongin gue hehehe…”
“Eh cie ara tadi ada siapa tuh…” Celoteh kinan sambil tertawa heboh
“Ih maludeh gue, jangan kayak gitu dong nan”
nia, dan kinan pun tertawa sepanjang perjalanan menuju toilet mengingat merahnya wajah ku saat berpas-pasan dengan dia…
—
Tiba-tiba darah segar keluar dari hidung ku, astagfirullah. Aku yang tersadar langsung menyeka darah tersebut dengan tissue dan langsung pergi ke toilet. Untung yang lain lagi ke koperasi buat fotokopi bahan buat presentasi besok. Pikirku…
Sepulang sekolah, aku bergegas ke dokter yang biasa merawat ku yaitu dokter irwan, dokter kepercayaan keluarga ku. dan ketika aku kolaps seperti ini aku lebih memilih untuk bercerita tentang sakit ku kepada dokter irwan. Seketika itu seperti biasa aku diberi sebuah suntikan di lengan kanan. Dan dokter irwan lah yang selama ini menyimpan rahasia tentang penyakit ku ini.
“Ra… Kamu harus memberi tahukan penyakit mu kepada orang tua mu.” Ujar dokter irwan kepadaku
“Iya dok, aku hanya belum siap untuk memberi tahukan keadaan ku saat ini. Dokter mengerti kan alasannya?” Jawab ku hingga tak terasa ada air yang menetes di pipiku.
“Tapi ra kalau kamu tetap kekeuh gak mau kemoterapi penyakit mu ini akan nambah parah, ditambah lagi usia kanker mu yang sudah mencapai stadium akhir”.
Kata-kata dokter irwan mengiang di telinga ku, haft sudah lah kalau usia ku cukup sampai disini aku ikhlas. Karena aku tahu segala sesuatu yang telah ditakdir kan Allah SWT pada ku, itulah yang terbaik bagi ku.
Belum sampai aku di rumah, kepala ku terasa sangat pusing dan lagi-lagi darah segar keluar dari hidung ku… Ya Allah apa ini memang takdir untuk ku… Aku belum sempat membahagiakan orang tua ku, dan aku juga belum sempat untuk mengatakan perasaan ku kepada fahmi…
Akhirnya aku memilih untuk kembali ke Rumah Sakit di tempat dokter irwan bekerja…
“Ra…raaa kamu kemo ya…”
Suara dokter irwan seakan melayang-layang di kepala ku… Dan aku tersadar sekarang aku sudah ada di atas tempat tidur dorong di rumah sakit…
Seketika aku merasakan tangan ku ada yang memegang, aku berusaha untuk membuka mata…
“Raaa… Yaa Allah alhamdulillah raa, kamu akhirnya siuman”
Aku hanya bisa tersenyum kepada mama, aku hanya ingin menyampaikan ‘terima kasih maah paah buat semuanya i love you so much’
Tiba-tiba nia dan kinan datang dengan seseorang yang tidak asing lagi bagi ku. Omg itu fahmi, kok dia bisa ada disini… Belum sempat aku memikirkan hal tsb, fahmi langsung menghampiri ku…
“Raa aku udah tau semuanya dari nia, kenapa kamu gak pernah bilang dari awal tentang semuanya, aku juga sayang ra sama kamu… Perasaan ku masih sama waktu pertama kali kita ketemu… I love you raa. Plis jangan tinggalin aku…”
Ciara hanya membalas tulusnya perkataan fahmi dengan senyum dan air mata… Hingga akhirnya denyut jantung ciara menandakan ciara telah pergi kehadapan-NYA…
“Fahmi, ciara menitipkan surat untuk kamu” nia menyerahkan surat tersebut karena dia telah berjanji untuk memberikan surat tsb ketika ciara sudah pergi ke hadapan sang khalik.
Dear fahmi,
kalau kamu menerima pesan ini berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku hanya ingin mengunggkapkan semua nya kepada mu, rasa yang aku pendam selama empat tahun ini. Iya, aku sayang kamu. Maaf karena aku bisa selancang ini, walaupun kita jarang ngobrol maupun hanya bertukar sapa saja jarang. Karena bagiku menganggumi mu dari jauh saja sudah membuat ku bahagia. Terima kasih karena selalu menghadirkan senyum mu disaat-saat hari ku hampir usai, walaupun senyuman itu bukan ditujukan untuk ku. Asal kan kamu bahagia, kelak aku pun juga akan bahagia. Segitu dulu ya. Aku pergi dulu, satu yang pasti aku akan selalu ingat kamu. I love you fahmi!
From: ciara
Akhirnya air mata fahmi pun menetes karena tidak kuat memendung pedih nya atas kepergian ciara yang begitu cepat…
# Sumber :http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/cinta-pertama-2.html
“Eh ra lo gak papa tuh ngeliatin doi lagi sama ceweknya gitu?” Celetuk nia yang dari tadi memang sedang mengamati ciara.
“…” Ciara menoleh dengan menunjukkan muka suram nya.
“Uhm iya ra sekarang gue paham, pft udah deh ra jangan diratapin melulu… Banyak kali yang lebih baik dari doi, banyak banget malah. Gue gak suka kalau ngeliat lo stuck di doi doang” okey?! Ujar nia yang memberikan ceramah singkat di pagi hari…
“Ho’oh, paham kok gue ni. Yang gue gak ngerti ya itu. Kok doi bisa ya jadian secepet itu sama cewek yang jelas jelas baru dia kenal. Sedangkan gue? Gue udah deket sama dia hampir empat tahun gini, empat tahun ni! peka aja enggak kali tuh orang kalau gue suka sama dia”.
“Lo tau kan gue bakal bilang apa? Ya karena lo nya gak pernah nunjukin kalau lo itu suka sama dia ra. Smsan bisa diitung pake jari, uhm ngobrol? Aduh jarang banget. Masih jaman gitu mencintai seseorang dalam diam? emang nya lo gak capek apa sama persepsi lo itu?” Tanya nia, karena untuk kesekian kalinya, sahabat nya itu terpuruk karena cintanya yang tak terbalas.
“Persepsi apa deh ni? Emang gue pernah apa bikin persepsi tentang hubungan gue sama dia?” Ciara pun balik bertanya terhadap nia.
“Pliss deh ra gak usah pura-pura lupa! Lo inget kan lo pernah bilang gini ‘denger ya na, fahmi itu first love gue dan gue gak bakal mau move on sebelum bisa pacaran sama dia!’ nah sekarang lo inget kan?”
“Iya ni, iya… Gue tau kok gue salah. Udah ah bete deh bahas nya. Ke kantin yuk, galau gini malah bikin gue haus.” Ajak ciara sambil meraih tangan nia.
“Ya udah ayuk, tapi inget ya ra pesan gue.” ujar nia…
“Iyaaa, ya ampun temen gue satu ini bawel ya” Jawab ciara sambil mencubit pipi nia…
Oh iya perkenal kan nama ku, ciara teman-teman biasa memanggil ku ara.
Aku jatuh cinta sama orang ini. Dia fahmi anak tim basket di sekolah ku. Kami sudah berteman sejak smp, kira-kira sudah empat tahun, walaupun begitu semenjak kami lulus SMP fahmi mulai menjauh dari kehidupan ku. Mungkin karena sekarang dia sudah terkenal, kami jadi jarang mengobrol dia pun begitu sibuk kulihat ditambah lagi dia adalah ketua osis di sekolah ku. Ah sudah lah mungkin bagi nya aku ini adalah masa lalu yang tak perlu diingat. Tapi walaupun begitu aku suka dia dari awal pertemuan kami yaitu kelas satu SMP, kala itu aku satu kelas dengan nya kami dekat hanya sekedar teman satu kelas, selebihnya aku tak ingin berharap. Hingga saat ini kami sudah kelas satu SMA. Dan perasaan ku tetap sama sampai detik ini.
“Eh gue mau mesen es teh dulu nih di jawir, lo mau gak ni?” Tanya ciara kepada nia…
“Hmmm gue boleh deh satu, teraktir ya ra hehehe”
“Iya iyaa, apa sih yang enggak buat lo” jawab ciara…
“Wir es teh nya satu ya, di gelas aja” Baru aku ingin memesan es teh, tiba-tiba ada seseorang yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinga ku. Hah! Yang benar saja dia fahmi. Aku mematung, aku tidak sanggup untuk melihat ke arahnya. Bukannya memesan es teh. Aku langsung pergi ke tempat tadi aku duduk dengan nia…
“Niaaa! Lo tau apa?! Tadi gue ketemu fahmi di tempatnya jawir. Terus bukan nya beli es teh yang lo pesen gue malah kabur” cerita ciara dengan penuh semangat…
“Yaaah, gue kira kenapa, batal dong gue minum es teh huhu. Terus ngapain juga lo mesti kabur raaa. Ketauan banget nervous nya itu ya”
“Mau gimana lagi raa, gue bener-bener nervous abis tadi, maaf deh kita beli jus aja okey?” Ujar ciara dengan muka dimelas-melasin.
“Ya udah iya iya, kali ini biar gue yang beli deh. Uangnya mana bos”
“Huhu dasar ya lo ni, ckckckck cepetan loh gak pake tebar pesona segala”.
“Iya… Tenang ajaa raa… Byee tunggu gue balik yaa”. Jawab nia kesenengan…
Satu bulan berlalu, ternyata perkembangan dia dengan pacarnya masih tetap sama. Masih romantis.
Sedangkan aku hanya bisa bertahan dengan perasaan ini. Aku tak ingin berharap tapi hati selalu berkata lain. Aku bingung dengan perasaan ini, pantaskah aku mempertahan kan perasaan ini? Ditambah lagi sekarang ada penyakit yang bersarang di tubuh ku dan tidak ada satu pun yang tau kalau aku mengidap penyakit kanker stadium akhir, kecuali dokter ku. Bahkan orang tua ku. Tapi pernah satu kali aku keceplosan cerita sama nia, Aku tidak tahan lagi menanggung beban ini. tapi aku juga tidak ingin membuat orang-orang yang aku sayangi merasa sedih atas penyakit ku ini. Yang aku ingin kan di sisa akhir hidup ku ini adalah aku dapat mengatakan perasaan ku kepada nya. Iya fahmi. Aku ingin semua nya indah dan sempurna seperti yang kuingin kan. Sampai aku di panggil oleh-NYA.
“Hey ra… Ngelamun aja lo” ujar kinan
“Duhh kaget banget tau… Hoooo iya nih sekarang lagi hobby ngelamun gue” jawab ciara asal. Ngelamun kok dijadiin hobby gitu ehehehe.
“Kenapa sih ra? Lo ada masalah? Cerita dong sama gue” tanya kinan memberikan pundak untuknya.
“Gak papa kok nan, baik gue. Eh btw nia mana ya? Kayaknya dari tadi gue gak liat deh”
“Sama ra, gue juga dari tadi gak liat… Pft kemana sih ini orang. Ke toilet kali ya ra. Ah entar juga balik”…
“Iya kali ya nan, duh mau ke toilet nih. Anterin dong nan… Plisss” ujar ciara sambil menahan panggilan alam tsb
“Ya udah yuk, gue juga lagi bete di kelas melulu dari tadi”…
Ketika perjalanan menuju toilet sekolah, aku melihat nia dan fahmi sedang membicarakan sesuatu.
“Niaaa! Elo ya kita cariin tau dari tadi… Ya kan ra?”
“I… iya ni, lo disini tenyata”
“Eh kalian, mau pada ke toilet kan? Yuk cus gue juga ikut”… Jawab nia cepat-cepat menyudahi percakapan nya dengan fahmi.
“Niaaa, kok lo ngobrol sama fahmi gak ngajak-ngajak gue siihhh? Huhu”
“Bukan nya gitu raa, tadi itu gue lagi Ngomongin bahan buat osis besok” jawab nia
“Oh gitu huft gue kira ngomongin gue hehehe…”
“Eh cie ara tadi ada siapa tuh…” Celoteh kinan sambil tertawa heboh
“Ih maludeh gue, jangan kayak gitu dong nan”
nia, dan kinan pun tertawa sepanjang perjalanan menuju toilet mengingat merahnya wajah ku saat berpas-pasan dengan dia…
—
Tiba-tiba darah segar keluar dari hidung ku, astagfirullah. Aku yang tersadar langsung menyeka darah tersebut dengan tissue dan langsung pergi ke toilet. Untung yang lain lagi ke koperasi buat fotokopi bahan buat presentasi besok. Pikirku…
Sepulang sekolah, aku bergegas ke dokter yang biasa merawat ku yaitu dokter irwan, dokter kepercayaan keluarga ku. dan ketika aku kolaps seperti ini aku lebih memilih untuk bercerita tentang sakit ku kepada dokter irwan. Seketika itu seperti biasa aku diberi sebuah suntikan di lengan kanan. Dan dokter irwan lah yang selama ini menyimpan rahasia tentang penyakit ku ini.
“Ra… Kamu harus memberi tahukan penyakit mu kepada orang tua mu.” Ujar dokter irwan kepadaku
“Iya dok, aku hanya belum siap untuk memberi tahukan keadaan ku saat ini. Dokter mengerti kan alasannya?” Jawab ku hingga tak terasa ada air yang menetes di pipiku.
“Tapi ra kalau kamu tetap kekeuh gak mau kemoterapi penyakit mu ini akan nambah parah, ditambah lagi usia kanker mu yang sudah mencapai stadium akhir”.
Kata-kata dokter irwan mengiang di telinga ku, haft sudah lah kalau usia ku cukup sampai disini aku ikhlas. Karena aku tahu segala sesuatu yang telah ditakdir kan Allah SWT pada ku, itulah yang terbaik bagi ku.
Belum sampai aku di rumah, kepala ku terasa sangat pusing dan lagi-lagi darah segar keluar dari hidung ku… Ya Allah apa ini memang takdir untuk ku… Aku belum sempat membahagiakan orang tua ku, dan aku juga belum sempat untuk mengatakan perasaan ku kepada fahmi…
Akhirnya aku memilih untuk kembali ke Rumah Sakit di tempat dokter irwan bekerja…
“Ra…raaa kamu kemo ya…”
Suara dokter irwan seakan melayang-layang di kepala ku… Dan aku tersadar sekarang aku sudah ada di atas tempat tidur dorong di rumah sakit…
Seketika aku merasakan tangan ku ada yang memegang, aku berusaha untuk membuka mata…
“Raaa… Yaa Allah alhamdulillah raa, kamu akhirnya siuman”
Aku hanya bisa tersenyum kepada mama, aku hanya ingin menyampaikan ‘terima kasih maah paah buat semuanya i love you so much’
Tiba-tiba nia dan kinan datang dengan seseorang yang tidak asing lagi bagi ku. Omg itu fahmi, kok dia bisa ada disini… Belum sempat aku memikirkan hal tsb, fahmi langsung menghampiri ku…
“Raa aku udah tau semuanya dari nia, kenapa kamu gak pernah bilang dari awal tentang semuanya, aku juga sayang ra sama kamu… Perasaan ku masih sama waktu pertama kali kita ketemu… I love you raa. Plis jangan tinggalin aku…”
Ciara hanya membalas tulusnya perkataan fahmi dengan senyum dan air mata… Hingga akhirnya denyut jantung ciara menandakan ciara telah pergi kehadapan-NYA…
“Fahmi, ciara menitipkan surat untuk kamu” nia menyerahkan surat tersebut karena dia telah berjanji untuk memberikan surat tsb ketika ciara sudah pergi ke hadapan sang khalik.
Dear fahmi,
kalau kamu menerima pesan ini berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku hanya ingin mengunggkapkan semua nya kepada mu, rasa yang aku pendam selama empat tahun ini. Iya, aku sayang kamu. Maaf karena aku bisa selancang ini, walaupun kita jarang ngobrol maupun hanya bertukar sapa saja jarang. Karena bagiku menganggumi mu dari jauh saja sudah membuat ku bahagia. Terima kasih karena selalu menghadirkan senyum mu disaat-saat hari ku hampir usai, walaupun senyuman itu bukan ditujukan untuk ku. Asal kan kamu bahagia, kelak aku pun juga akan bahagia. Segitu dulu ya. Aku pergi dulu, satu yang pasti aku akan selalu ingat kamu. I love you fahmi!
From: ciara
Akhirnya air mata fahmi pun menetes karena tidak kuat memendung pedih nya atas kepergian ciara yang begitu cepat…
# Sumber :http://cerpenmu.com/cerpen-sedih/cinta-pertama-2.html
Langganan:
Postingan (Atom)